Sep 27, 2018

Peran Pelaku Ekonomi dalam Kegiatan Ekonomi

Peran Pelaku Ekonomi dalam Kegiatan Ekonomi


Manusia melakukan berbagai kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Anda dapat melihat berbagai aktivitas ekonomi yang dilakukan orang di sekitar. Misalnya, pedagang makanan, penjual alat elektronik, atau kegiatan membuat barang dan jasa, seperti pabrik pesawat, bengkel, dokter, dan pengembang perumahan (developer). Di sisi lain pengguna atau pembeli barang dan jasa juga banyak terdapat di sekitar Anda. Semuanya melakukan berbagai aktivitas yang jika diperhatikan memiliki keterkaitan dan kebergantungan. Hal tersebut menunjukkan adanya saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya, baik itu pengguna, penjual, atau penyedia barang dan jasa.

Kegiatan Ekonomi


1.  Produksi

a. Pengertian Produksi


Kegiatan produksi adalah kegiatan menghasilkan atau menambah nilai guna suatu barang dan jasa. Kegunaan suatu barang akan bertambah, jika memberikan manfaat baru atau lebih dari bentuk semula. Misalnya, butik, pabrik sepatu, pabrik bola, riunah sakit, sekolah, dan rumah produksi film atau sinetron.

Fungsi ilmu ekonomi dalam kegiatan produksi, yaitu memilili bagaimana sumber daya faktor produksi dapat dikombinasikan dengan efektif dan efisien sehingga menghasilkan output yang murah (least cost) dan berkualitas. Dalam memproduksi sebenarnya perusahaan dibatasi oleh pengguna sumber daya modal, tenaga kerja, tempat (ruang), teknologi dan waktu.

Faktor-Faktor Produksi


Faktor produksi adalah unsur-unsur yang digunakan dalam proses produksi. Faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi terdiri atas sumber daya alam, tenaga kerja manusia, sumber daya modal, dan sumber daya keahlian.

1) Sumber Daya Alam


Faktor sumber daya alam merupakan segala sesuatu yang disediakan oleh alam guna memenuhi kebutuhan. Misalnya, tanah, tumbuhan, hewan, udara, air, sinar matahari, dan emas. Dalam menggali dan memanfaatkan sumber daya alam, manusia harus mampu memelihara dan mengembangakannya agar sumber daya tersebut tidak cepat rusak dan habis.

2) Sumber Daya Manusia


Faktor sumber daya manusia merupakan semua kegiatan manusia baik jasmani maupun rohani yang dipakai dalam proses produksi. Faktor sumber daya alam dan sumber daya manusia merupakan faktor produksi asli karena tersedia di alam secara langsung.

3) Sumber Daya Modal


Modal adalah barang atau hasil produksi yang digunakan imtuk menghasilkan produk selanjutnya. Faktor produksi modal dapat dikategorikan sebagai berikut.

a)    Bentuk Modal

Modal nyata (modal konlcret) adalah modal yang dapat dilihat secara kongkret dalam proses produksi. Contohnya, mesin, bahan baku, dan gedung pabrik.

Modal tidak nyata (modal abstrak) adalah modal yang tidak dapat dilihat, tetapi memiliki nilai dalam perusahaan. Contohnya, nama baik perusahaan {goodwill) dan merek produk.

b) Manfaat dalam Proses Produksi


Modal tetap adalah barang-barang modal yang dapat digunakan berkali-kali dalam proses produksi. Contohnya, gedimg dan mesin-mesin pabrik.

Modal lancar adalah barang-barang modal yang habis sekali pakai dalam proses produksi, contohnya bahan baku dan bahan pembantu.

4) Sumber Daya Keahlian atau Kewirausahaan


Sumber daya keahlian adalah faktor produksi yang mengatur dan mengombinasikan faktor-faktor produksi secara efektif dan efisien. Faktor sumber daya modal dan faktor sumber daya keahlian (skill) merupakan faktor produksi turunan karena tersedia melalui proses pengelolaan atau tidak langsung ada.

Teori Perilaku Produsen


Produsen sangat erat kaitannya dengan konsumen karena tanpa konsumen kegiatan produsen untuk memproduksi barang dan jasa menjadi tidak berguna. Bagi seorang produsen ada berbagai alternatif yang dapat dipilih dalam mengombinasikan berbagai faktor produksi untuk menghasilkan produksi yang efesien (lost cost combination). Hal sederhana yang bisa dilakukan untuk memilih kombinasi faktor produksi adalah dengan melalui pendekatan produk total (total product), produksi marjinal (marginal product), pendapatan total (total, revenue) dan pendapatan produk marjinal (marginal revenue product).

1) Hukum Hasil Lebih yang Semakin Berkurang
Hukum hasil pertambahan nilai yang semakin berkurang (the law of diminishing marginal returns) menyatakan apabila faktor variabel produksi ditambah, sedanglcan faktor produksi lain tetap, tambahan produksi (marginal product) akan mulai menurun.

Misalkan, seorang produsen sepatu ingin mengetahui berapa pegawai yang dibutuhkan untuk menghasilkan produksi yang optimal. Hubungan antara jumlah pegawai dan jumlah produksi sepatu yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel Hubungan Jumlah Pegawai dan Produksi Sepatu berikut :
Produksi pada saat awal dengan seorang pegawai mampu menghasilkan 5 unit sepatu dengan ditambah pegawai produksi sepatu bisa bertambah. Misalnya, dengan menambah pegawai menjadi 5 orang produksi sepatu menjadi 80 unit. Namun, pada posisi jumlah pegawai 8 orang produksi mencapai maksimal apabila jumlah pegawai ditambah lagi. Misalnya, 9 orang produksi sepatu malah menurun. Hubungan antara penggunaan pegawai dengan produksi sepatu digambarkan pada Grafik Total Produk Produksi Sepatu.

Pertanyaannya, berapa banyak pegawai yang akan digunakan oleh produsen sepatu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu ketahui berapa tambahan produksi sepatu yang diperoleh setiap kali penambahan pegawai 1 orang. Perbandingan penambahan produksi sepatu dan penambahan pegawai inilah yang disebut sebagai produksi tambahan {marginalproduct) yang bisa dibuat model matematikanya sebagai berikut.

Secara grafik, produk marjinal dapat digambarkan pada Grafik Produk Marjinal (MP) Produksi Sepatu.
Berdasarkan Grafik Produk Marjinal (MP) tersebut sampai dengan penggunaan pegawai 5 orang produksi marjinal sepatu naik; antara penggunaan pegawai 5 orang dan 8 orang total produksi tetap positif; penggunaan lebih dari 8 orang menjadi negatif. Oleh karena itu, terdapat 3 daerah produk marjinal, yaitu produk marjinal naik (increasing marginal returns), produk marjinal turun (diminishing marginal returns), dan produk marjinal negatif (negatif marginal returns). Gambaran produk marjinal yang awalnya naik kemudian menurun inilah yang disebut sebagai hukum hasil pertambahan nilai yang semakin berkurang (the law of diminishing marginal returns).
Berikut Grafik yang menggabungkan Grafik Total Product dan Grafik Marginal Product.

 2) Konsep Pendapatan Marjinal


Selain menggunakan prinsip the law of diminishing marginal returns (penambahan hasil yang semakin menurun) untuk mengetahui berapa penambahan pegawai yang optimal, diperlukan satu konsep lagi, yaitu konsep pendapatan marjinal (marginal revenue product), yaitu tambahan pendapatan total sebagai akibat dari penambahan faktor produksi. Dengan demikian, Marginal Revenue Product (MRP) adalah Marginal Product (MP) dikalikan dengan Harga Produk (P).
MRP = MP x P

Keterangan:
MRP    = Penambahan pendapatan total
MP    = Selisih penambahan produk
P    = Harga produk

Misalnya, harga sepatu Rp26.250. Kemudian, gaji pegawai Rp20.000. Apakah dengan produsen menggunakan pegawai 5 akan optimal? Jawabannya belum karena pada jumlah pegawai 6 orang nilai penambahan penerimaan (MRP) lebih tinggi jika dibandingkan penambahan gaji pegawai. Berikut disajikan contoh tabel konsep pendapatan marjinal.

Tabel Jumlah Pegawai dan Pendapatan Marjinal

SituasiJumlah PegawaiProduk Marjinal (Unit)Marginal Revenue Product (Ribuan)
A15100
B210200
C315300
D425500
E530600
F620400
G75100
H800
I9-5-100
Dengan demikian, Jika MRP lebih besar dari biaya faktor produksi produsen sepatu akan menambah penggunaan pegawai, sebalikiiya jika MRP lebih kecil dari biaya, produsen akan mengurangi pegawai. Penggunaan pegawai yang optimal ketika MRP sama dengan biaya.
Readmore → Peran Pelaku Ekonomi dalam Kegiatan Ekonomi

Jul 11, 2018

Pengertian Laba (Profit) dan Pengertian Distribusi

Pada bahasan sebelumnya telah diuraikan mengenai Pengertian Konsep Biaya Produksi, nah sekarang kita lanjutkan dengan Pengertian Laba (Profit) dan Pengertian Distribusi, jangan kemana-mana dulu langsung aja ke Perkara.

Laba (Profit)

1) Pengertian Laba (Profit) 

Tujuan utama dari pendirian sebuah perusahaan sudah jelas untuk mendapatkan laba (profit) atau dengan kata lain keuntungan. Laba merupakan kompensasi atas risiko yang di tanggung perusahaan, semakin tinggi risiko maka semakin tinggi laba yang diperoleh perusahaan, dan sebaliknya. Laba adalah nilai penerimaan total perusahaan di kurangi total biaya yang dikeluarkan perusahaan. Jika laba di notasikan dengan n, maka laba dapat dirumuskan sebagai berikut. 

n = Profit atau Laba  TR = Total Revenue   TC = Total Cost
dimana:
n = Profit atau Laba
TR = Total Revenue 
TC = Total Cost
Perusahaan mendapatkan laba jika nilai rt positif (it > 0) atau TR > TC, sedangkan laba maksimum tercapai jika iiilai n mencapai maksimum. Adapun jika ji negatif (tt < 0) atau TR < TC, maka perusahaan mengalami rugi (loss), sementara jika TR = TC, maka perusahaan mengalami titik impas atau break even point. 



2) Syarat Laba Maksimum 


Perusahaan akan mendapatkan laba maksimum bila berproduksi pada jumlah output dimana biaya marginal (MC) sama dengan penerimaan marginal (MR). Dengan kata lain, syarat laba maksimum adalah MC = MR. 

Mengapa ketika MC=MR tercapai laba maksimum? Hal tersebut dikarenakan selama menambah produksi, pertambahan penerimaan lebih besar dari pertambahan biaya (selaina MR > MC), maka menambah produksi berarti memperbesar laba.

Jika biaya produksi meningkat dengan jumlah yang lebih besar dari pertambahan penerimaan (MC > MR), maka menambah produksi berarti akan menyebabkan laba menjadi lebih kecil, dan mengurangi produksi akan memperbesar laba. Ketika MC = MR, maka laba tidak akan dapat diperbesar lagi atau sudali maksimum, sehingga produksi dapat ditambah atau dikurangi sampai tercapai kondisi MC=MR yang menunjukkan posisi laba maksimum. MC = MR juga menjadi prasyarat agar kerugian perusahaan minimum. 

3) Titik Impas 


Titik impas atau break even point (BEP) adalah kondisi dimana TC sama dengan TR. Posisi BEP menunjukkan bahwa pada jumlah produksi tersebut, perusahaan tidak memperoleh laba atau tidak menderita kerugian sebab jumlah biaya total dan jumlah penerimaan total tepat sama besarnya (TC=TR). BEP juga menunjukkan jumlah minimal barang yang harus diproduksi agar perusahaan tidak memperoleh kerugian. Perhatikan kurva sebagai berikut.

Kurva

Distribusi 


a. Pengertian Distribusi


Barang dan jasa hasil kegiatan produksi dari para produsen tidak dapat dikonsumsi oleh konsumen jika tidak ada peran distribusi. Apa itu distribusi?

Distribusi adalah proses perpindahan atau penyaluran barang dan jasa dari produsen kepada konsumen. Distribusi merupakan salah satu aspek dari pemasaran sehingga distribusi dapat diartikan juga sebagai kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen kepada konsumen, sehingga penggunaannya sesuai dengan yang diperlukan (jenis, jumlah, harga, tempat, dan saat dibutuhkan). Kegiatan distribusi berfungsi mendekatkan produsen dengan konsumen sehingga barang atau jasa yang diproduksi dapat dikonsumsi oleh konsumen di seluruh wilayah Indonesia. Orang atau pihak yang melakukan proses distribusi disebut distributor.

b. Faktor-faktor yang Memengaruhi Distribusi


Banyak faktor yang memengaruhi berjalannya proses distribusi, di antaranya sebagai berikut.

1) Faktor Barang

Jenis, bentuk, ukuran, sifat dan kemasan barang sangat berpengaruh dalam proses distribusi. Barang dari jenis makanan dan bukan makanan, tentu berbeda proses distribusinya, barang yang mudah rusak dan tahan lama juga tentu berbeda dalam proses distribusinya.


Pengalaman dan kemampuan manajemen serta pengawasan yang dilakukan perusahaan selama proses distribusi tentu akan sangat berpengaruh terhadap kegiatan distribusi. Ketersediaan dana dan teknologi yang digunakan perusahaan untuk kegiatan distribusi juga berpengaruh terhadap kelancaran distribusi.


Jumlah konsumen, letak geografis konsumen, jumlah pesanan dan kebiasaan dalam pembelian dari konsumen di pasar menjadi faktor yang ikut berpengaruh terhadap kegiatan distribusi.


Ada tidaknya perantara, volume pembelian dan biaya penyaluran barang dari produsen kepada kosumen.


Jarak antara tempat produksi dengan konsumen menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kelancaran proses distribusi. Jarak tempuh antara Jawa dan Bali serta antara Jawa dan Papua menjadikan proses distribusi barang dan jasa kedua tempat tersebut dari pulau Jawa berbeda.


Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih sangat membantu proses distribusi barang dan jasa. Distribusi barang antar Negara, baik impor maupun ekspor, semakin cepat dan mudah dengan bantuan teknologi informasi.

c. Mata Rantai Distribusi


Untuk mengetahui mata rantai distribusi, terlebih dahulu kalian harus memahami tentang sistem distribusi atau saluran distribusi, tahukan anda apa itu sistem distribusi? Ada berapa macam sistem distribusi? Berdasarkan hubungan antara produsen dan konsumen, secara umum sistem distribusi atau saluran distribusi dibedakan menjadi dua sebagai berikut.


Distribusi langsung adalah penyaluran atau penjualan barang yang dilakukan secara langsung oleh produsen ke konsumen yang dilakukan tanpa perantara. Bentuk saluran distribusi langsung dapat dibagi dalam empat, yaitu.
  • Selling at the point production, yaitu bentukpenjualan langsung dilakukan di tempat produksi. Contohnya petani buah yang melakukan penjualan buah-buahan yang dihasilkan di kebunnya kepada konsumen dan usaha pakaian jadi yang menjual hasil produksinya langsung kepada konsumen di tempat penjahitan.
  • Selling at the producers retail store, yaitu penjualan yang dilakukan tempat pengecer. Bentuk penjualan ini biasanya produsen tidak melakukan penjualan langsung kepada konsumeja vtetapi melalui/ dilimpahkan kepada pihak pengecer.
  • Selling door to door, yaitu penjualan yang dilakukan oleh produsen langsung kepada konsumen dengan mengerahkan salesmannya ke rumah-rumah atau ke kantor-kantor konsumen.
  • Selling through mail, yaitu penjualan yang dilakukan perusahaan dengan menggunakan jasa pos.

Distribusi tidak langsung adalah penyaluran atau penjualan barang dari produsen kepada konsumen melalui perantara. Saluran distribusi tidak langsung, khususnya untuk barang konsumsi sebagai berikut.


Bentuk saluran ini adalah bentuk yang paling pendek dan sederhana sebab tanpa menggunakan perantara. Produsen dapat menjual barang yang dihasilkan melalui pos atau langsung mendatangi rumah konsumen.


Dalam saluran distribusi ini produsen menginginkan suatu lembaga lain, maksudnya dalam hal ini pengecer yang menyampaikan peroduknya ke konsumen, di mana pengecer langsung membeli produk tanpa melalui pedagang besar dan menjualnya kembali kepada konsumen.


Jenis saluran distribusi ini dilaksanakan oleh produsen yang tidak ingin menjual secara langsung tetapi menginginkan suatu lembaga guna menyalurkan produknya, sehingga dalam hal ini produsen menjual kepada pedagang besar saja. Kemudian pada pedagang besarlah yang menjual kembali kepada pengecer dan meneruskannya ke tangan konsumen. Jadi di sini produsen hanya berhubungan dengan pedagang besar.



Jenis saluran distribusi lainnya yang sering dipakai para produsen adalah dengan melibatkan agen di dalamnya. Di sini agen fungsinya adalah sebagai penyalur yang kemudian mengatur system penjualannya kepada saluran pedagang besar selanjutnya kepada pengecer dan kemudian sampai ke tangan konsumen. Saluran distribusi ini sering dipergunakan untuk produk yang tahan lama. 


Dalam saluran distribusi ini produsen memilih agen yang akan dipertemukan produsen untuk menjalankan kegiatan penjualan kepada pengecer dan selanjutnya pengecer menjualnya kepada konsumen. Pada dasarnya saluran distribusi yang dipakai baik itu agen maupun pengecer tujuannya dalah untuk mendapatkan keuntungan dengan sasaran konsumennya. Agen di sini bertugas mempertemukan pembeli dengan penjual. Agen tidak mengambil alih pemilikan dari barang tersebut.

Cukulah sekian uraian tentang Pengertian Laba (Profit) dan Pengertian Distribusi, untuk bahasan lebih lanjut simak juga tentang Pengertian Konsumen.
Readmore → Pengertian Laba (Profit) dan Pengertian Distribusi

Pengertian Elastisitas Permintaan dan Penawaran, Jenis-Jenis Elastisitas Harga Penawaran, Perhitungan Elastisitas Harga Permintaan, Jenis-Jenis Elastisitas Harga Permintaan

Elastisitas Permintaan dan Penawaran


Untuk mengukur seberapa besar reaksi konsumen terhadap perubahan harga dan faktor-faktor lainnya, para ahli ekonomi menggunakan konsep elastisitas. Elastisitas adalah rasio yang mengukur perubahan jumlah yang diminta atau ditawarkan sebagai akibat perubahan faktor yang memengaruhinya.

b. Perhitungan Elastisitas Harga Penawaran


Elastisitas harga penawaran adalah angka yang menunjukkan berapa persen jumlah barang yang ditawarkan berubah, jika harga barang berubah satu persen. Elastisitas harga penawaran juga dapat dihubungkan dengan faktor-faktor atau variabel lain yang dianggap memengaruhinya, seperti tingkat bunga, tingkat upah, harga bahan baku, dan harga bahan antara. Elastisitas harga penawaran dapat dihitung dengan runius sebagai berikut.

Rumus Elastisitas Permintaan
Dapat dilihat secara langsung bahwa definisi dan rumus elastisitas penawaran tetap sama dengan definisi dan runius elastisitas permintaan. Satu-satinya perbedaan adalah bahwa jumlah yang ditawarkan bereaksi terhadap harga secara positif (berbanding lurus dengan harga). Hal ini mefiimjukkan bahwa dalam elastisitas penawaran kenaikan harga akan menciptakan peningkatan jiunlah yang ditawarkan, sebaliknya penurunan harga akan menyebabkan penurunan jumlah yang ditawarkan.

Jenis-Jenis Elastisitas Harga Penawaran


Berikut jenis-jenis elastisitas harga pada penawaran, yaitu elastis, inelastis, elastis uniter, elastis sempurna, dan inelastis sempurna.

1) Elastis

Jika persentase perubahan jumlah barang yang ditawarkan lebih besar dari pada persentase perubahan harga, atau jika nilai koefisien >1.

2) lnelastis

Jika persentase perubahan jumlah barang yang ditawarkan lebih kecil dari pada persentase perubahan harganya (nilai koefisien < 1).



3) Elastis Uniter

Jika persentase perubahan jumlah barang yang ditawarkan sama dengan persentase perubahan harganya (nilai koefisien = 1).

4) Elastis Sempurna

Jika harga tidalc berubah sedangkan jumlah yang ditawarkan berubah.

5) lnelastis Sempurna

Jika perubahan harga tidak mampu mengubah jumlah yang ditawarkan.
Berikut kelima jenis elastisitas harga pada penawaran tersebut ditampillcan pada grafik berikut :

Perhitungan Elastisitas Harga Permintaan


Elastisitas permintaan adalah rasio yang mengukur derajat kepekaan jumlah barang yang diminta sebagai akibat perubahan harga. Konsep elastisitas memiliki peranan penting dalam menganalisis inasalali-masalah bisnis. Banyak keputusan bisnis yang diambil dengan keputusan elastisitas, seperti elastisitas permintaan dan elastisitas penawaran.
Elastisitas harga dari permintaan merupakan jumlah barang yang diminta yang diakibatkan oleh harga barang tersebut. Elastisitas harga permintaan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.
Jika angka elastisitas harga permintaan bernilai negatif, misalnya E = -2 memiliki arti jika harga barang naik 1%, permintaan terhadap barang tersebut turun 2%, (ceteris paribus). Begitu juga sebaliknya. Semakin besar nilai negatifnya, semakin elastis permintaannya, sebab perubahan permintaan jauh lebih besar dibanding perubahan harga. Angka E dapat disebut dalam nilai absolut. E= -2. Artinya, sama dengan E=2

Jenis-Jenis Elastisitas Harga Permintaan

Berikut jenis-jenis elastisitas harga pada permintaan, yaitu elastis, inelastis, elastis uniter, elastis sempurna.

a. Elastis

Jika persentase perubahan jumlah barang yang diminta lebih besar daripada persentase perubahan harga, atau jika nilai koefisien > 1 (E>1), biasanya terdapat pada barang-barang yang memiliki tingkat substitusi banyak. Misalnya, pada barang elektronik, seperti televisi dan telepon seluler.

b. Inelastis

Jika persentase perubahan jumlah barang yang diminta lebih kecil daripada persentase perubahan harganya (nilai koefisien <1) (E<1), biasanya terdapat pada barang yang tidak memiliki banyak substitusi, misalnya garam.

c. Elastis Uniter

Jika persentase perubahan jumlah barang yang diminta saina dengan persentase perubahan harganya (nilai koefisien = 1), (E=l) terdapat pada sebagian barang elektronik, misalnya VCD player dan DVD player.

d. Elastis Sempurna

Artinya, harga tidak berubah, tetapi jumlah yang diminta berubah (E= ~). Contohnya harga garam dan harga bensin.

e. Inelastis Sempurna

Artinya, berapapun perubahan harga yang terjadi tidak akan berpengaruh terhadap jumlah barang dan jasa yang diminta (E=0). Contohnya harga beras.
Berikut kelima jenis elastisitas harga pada permintaan tersebut ditampilkan pada kurva berikut ini.

Grafik Kurva Elastisitas Harga Permintaan
Secara grafik, tingkat elastisitas harga permintaan terlihat dari slope (kemiringan) kurva permintaan. Jika kurva permintaan tegak lurus, permintaan inelastis sempurna {perfect inelastic). Perubahan harga, tidak memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika kurva sejajar sumbu datar, permintaan elastis sempurna {perfect elastic). Perubahan harga sedikit saja, menyebabkan perubahan jumlah barang yang diminta tak terhingga besarnya. Permintaan dilcatakan elastis uniter {unitary elastic), jika slope kurvanya negatif satu. Dengan demikian dapat disimpulkan semakin datar kurva permintaan, akan semakin elastis permintaaan suatu barang.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Elastisitas Penawaran dan Permintaan

a. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Elastisitas Penawaran

Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya elastisitas penawaran, yaitu sebagai berikut.

1) Jenis Produk

Kurva penawaran produk pertanian umumnya inelastis. Oleh karena produsen tidak mampu memberikan respons positif yang cepat terhadap perubahan harga. Contohnya ketika harga beras naik 15%, petani tidak dapat langsung panen tetapi haras menanam dahulu padi dan barn dapat dipanen 5 sampai 6 bulan yang akan datang. Sementara kurva penawaran produk industri umumnya elastis karena mampu merespons dengan cepat terhadap perubahan harga. Contohnya, ketika harga tekstil naik, pengusaha tekstil akan memperpanjang jam kerja/lembur pegawainya untuk menambah produksi.

2) Sifat Perubahan Biaya Produksi

Penawaran akan bersifat inelastis jika kenaikan penawaran hanya dapat dilakukan dengan mengeluarkan biaya tinggi. Sebaliknya penawaran yang dapat ditambah dengan pengeluaran biaya tambahan yang tidak terlalu besar, penawaran akan bersifat elastis.

3) Jangka Waktu

Harnpir semua barang memiliki elastisitas penawaran yang lebih besar dalam jangka panjang, dibanding dengan dalam jangka pendek, Hai ini disebabkan perusahaan dalam jangka panjang dapat mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam jangka pendek. Contohnya, perusahaan tekstil dalam jangka waktu kurang satu tahun tidak dapat membangun pabrik baru, tetapi dalam jangka waktu dua atau tiga tahun yang akan datang perusahaan tersebut mungkin dapat membangunnya. Dengan demikian, kurva penawaran tekstil dalam jangka panjang lebih elastis dibanding dalam jangka pendek.

b. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Elastisitas Permintaan

Elastisitas permintaan merupakan sebuah ukuran seberapa besar derajat kepekaan permintaan terhadap perubahan harga. Berikut merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya elastisitas permintaan:

1) Ketersediaan Barang Substitusi

Ketersediaan barang subtitusi akan memengaruhi elastisitas permintaan. Semakin sulit mencari substitusi suatu barang, permintaan akan semakin inelastis. Contohnya, beras bagi masyarakat Indonesia sulit dicari substitusinya. Karena itu, permintaan beras bersifat inelastis.

2) Proporsi Kenaikan Harga terhadap Pendapatan Konsmnen

Jika proporsi kenaikan harga besar, permintaan akan cenderung lebih elastis. Contohnya, garam dan lemari es. Ketika harga garam naik 50%, dan diuangkan misalnya hanya meneapai Rp1000,00. Angka tersebut merupakan bagian yang sangat kecil jika dibandingkan dengan pendapatan sebagian besar keluarga sehingga tidak memengaruhi konsumsi terhadap garam. Lain halnya ketika harga lemari es naik 10% dan jika diuangkan misalnya meneapai Rp300.000,00. Hal ini tentunya dapat menyebabkan beberapa kejuarga menunda pembelian lemari es sampai bulan depan.

3) Jumlah Barang

Semakin banyak jumlah pemakai suatu barang, permintaan akan barang tersebut akan semakin inelastis. Contohnya, hampir semua masyarakat di Indonesia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok sehingga permintaan terhadap beras bersifat inelastis. Dengan demikian, semakiil pokok suatu barang, akan semakin inelastis permintaannya. Namun yang haras diingat, pokok tidaknya suatu barang itu relatif. Artinya, bisa saja suatu barang bagi sebagian masyarakat menjadi barang pokok dan bagi sebagian yang lainnya termasuk barang mewah. Hal ini jelas menunjukkan bahwa elastisitas harga dipengaruhi oleh pokok tidaknya suatu barang.

4) Jangka Waktu

Jangka waktu permintaan atas suatu barang juga akan berpengaruh terhadap elastisitas harga. Namun hal ini bergantung kepada apakah barangnya durabel (tahan lama) atau nondurabel (tidak tahan lama).

Untuk barang-barang yang habis pakai dalam waktu kurang dari satu tahun (non-durable goods), elastisitas harga akan lebih besar dalam jangka panjang dibanding dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh dua faktor. Pertama, konsumen membutuhkan waktu untuk mengubah kebiasaan meraka. Misalnya harga tempe naik, Konsumen yang terbiasa makan dengan tempe akan sulit mengubah kebiasaan tersebut dalam jangka pendek. Akibatnya, permintaan tempe dalam jangka pendek akan mengalami penuranan yang lebih kecil dibanding dalam jangka panjang. Kedua, kadang-kadang permintaan terhadap suatu barang berkaitan dengan barang lain yang perubahannya akan terlihat dalam jangka panjang. Contohnya harga BBM naik. Biasanya konsumen akan mengurangi jumlah (jam) pemakaian kendaraannya sehingga dalam jangka pendek elastisitas permintaannya akan besar. Hal ini, tentunya disebabkan konsumen tidak dapat mengubah stok kendaraannya atau segera mengubah kendaraannya dengan kendaraan hemat BBM. Namun dalam jangka panjang, dua atau tiga tahun kemudian dengan kendaraan yang hemat BBM, penuranan penggunaan BBM akan lebih besar sehingga elastisitas permintaan jangka panjang akan lebih besar dibanding dengan jangka pendek.
Readmore → Pengertian Elastisitas Permintaan dan Penawaran, Jenis-Jenis Elastisitas Harga Penawaran, Perhitungan Elastisitas Harga Permintaan, Jenis-Jenis Elastisitas Harga Permintaan

Konsep Biaya Produksi, Pengertian Biaya Produksi, Konsep Biaya Produksi

Konsep Biaya Produksi

1) Pengertian Biaya Produksi


Proses produksi yang dilakukan produsen pasti meinerlukan biaya, besarnya biaya proporsional dengan banyak barang dan jasa yang dihasilkan. Tahukan kalian apa itu biaya produksi? Biaya produksi tidak dapat dipisahkan dari proses produksi. Biaya produksi dapat didefinisikan sebagai semua pengeluaran atau semua beban yang harus ditanggung oleh perusahaan untuk menghasilkan suatu jenis barang atau jasa.

Biaya produksi juga dapat didefinisikan sebagai semua pengorbanan yang diperlukan untuk mendukung proses produksi barang atau jasa tertentu yang dinyatakan dengan uang. Pengorbanan yang dimaksud adalah pemakaian faktor-faktor produksi atau smnber-sumber ekonomi seperti bahan baku yang digunakan, waktu dan tenaga yang terpakai, teknologi yang digunakan, upah tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi, dan sebagainya. Pengorbanan yang digunakan untuk mendukung proses produksi harus dikuantitatifkan dan diukur dengan uang, hal tersebut dilakukan untuk mempermudah perhitungan sehingga diketahui dengan pasti nominal modal yang digunakan untuk proses produksi, harga yang layak dari produk yang dihasilkan, mengendalikan pengggunaan dana sehingga efisiensi produksi tercapai, dan membantu perhitungan laba yang akan dihasilkan.

2)  Konsep Biaya Produksi


Terdapat lima konsep biaya produksi yang harus kalian ketahui, kelima konsep biaya produksi tersebut sebagai berikut.

a) Biaya Tetap (fixed cost/FC)

Biaya Tetap adalah biaya yang besarnya tidak tergantung pada jumlah barang yang dihasilkan. Artinya, biaya yang dikeluarkan tidak berubah berapapun jumlah barang yang dihasilkan produsen. Contohnya biaya gaji, bunga utang bank, sewa tempat dan sebagainya.

Biaya tetap dapat dikelompokkan menjadi dua sebagai berikut.

Biaya tetap total adalah seluruh biaya yang tetap hams dikeluarkan dalam juinlah yang sama selama memproduksi jumlah barang tertentu.

(2) Biaya tetap rata-rata (Average Fixed Cost/AFC)

Biaya tetap rata-rata adalah biaya tetap yang harus dikeluarkan per unit barang, Rumus untuk menghitung biaya tetap rata-rata adalah sebagai berikut.

Dimana Q adalah juinlah barang yang diproduksi
Untuk mempermudah pemahaman. kalian tentang konsep AFC, perhatikan tabel sebagai berikut :

Jumlah Produksi
(Q)
Total Fixed Cost (Rp)Average Fixed Cost (Rp)
AFC = TFC/Q)
530,000.006,000.00
1030,000.003,000.00
1530,000.002,000.00
2030,000.001,500.00
2530,000.001,200.00
3030,000.001,000.00

Jika digambarkan dengan kurva, berikut gambaran kurva biaya tetap dan biaya tetap rata-rata.

Kurva Biaya Tetap Rata-rata

b) Biaya Variabel ( Variabel Cost/VC)


Biaya variabel adalah biaya yang besarnya tergantung kepada jumlah barang yang dihasilkan. Artinya, besarnya biaya variabell dipengaruhi oleh jumlah barang yang diproduksi. Semakin banyak barang yang diproduksi, semakin banyak biaya variabel.

Biaya variabel dapat dikelompokkan menjadi dua sebagai berikut.

(1) Biaya variabel total (total variabel cost/TVC)

Biaya variabel total adalah seluruh biaya variabel yang harus dikeluarkan selama memproduksi barang dalam jumlah tertentu.

(2) Biaya variabel rata-rata (average variabel cost/AVC)

Biaya variabel rata-rata adalah biaya variabel yang harus dikeluarkan per unit barang yang diproduksi. Rumus untnk menghitung biaya variabel rata-rata adalah sebagai berikut.
Dimana Q adalah jumlah barang yang diproduksi Untuk mempermudah pemahaman kalian tentang konsep AVC, perhatikan tabel sebagai berikut.


Jumlah Produksi
(Q)
Total Variable Cost 
(Rp)
Average Variable Cost (Rp)
530,000.006,000.00
1050,000.005,000.00
1575,000.005,000.00
2090,000.004,500.00
25100,000.004,000.00
30110,000.003,666.67
Jika digambarkan dengan kurva, berikut gambaran kurva biaya variebal total dan biaya variabel rata-rat.
Kurva Biaya Variabel Total dan Kurva Biaya Variabel Rata-rata


c) Biaya Total ( Total Cost/TC)
Biaya total adalah jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang atau jasa yang dilakukan produsen. Biaya total merupakan penjumlahan dari biaya tetap total (TFC) dan biaya variabel total (TVC). Jika diformulasikan dalam persamaan sebagai berikut.

AVC = TFC + TVC
Jika digambarkan dengan kurva, berikut gambaran kurva biaya total dan biaya total rata-rata sebagai berikut.

d) Biaya Rata-Rata (average cost/AC)
Biaya rata-rata adalah biaya yang dikeluarkan untUk setiap satu unit barang yang diproduksi oleh produsen. Semakin banyak jumlah barang yang dihasilkan, maka biaya rata-rata (AC) akan semakin menurun sampai mencapai titik terendah pada jumlah produksi tertentu. Namun, jika jumlah produksi ditingkatkan lagi, AC bergerak naik kembali. Jika diformulasikan dalam persamaan sebagai berikut.

e) Biaya Marginal (marginal cost/MC)
Biaya marginal adalah perubahan biaya total (ATC) jika produksi ditambah/dikurangi satu unit. Dengan kata lain, MC adalah tambahan atau pengurangan biaya jika produsen menambah/mengurangi satu unit produksi. MC mula-mula menurun, tetapi selanjutnya meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah barang yang dihasilkan. Jika diformulasikan dalam persamaan sebagai berikut.
Penerimaan adalah pendapatan produsen atau pengusaha berupa uang yang diperoleh dari hasil penjualan barang yang diproduksi selama periode tertentu. Terdapat beberapa macam konsep penerimaan sebagai berikut.


1) Penerimaan Total (total revenue ITR)
Penerimaan Total adalah seluruli pendapatan yang diterima produsen dari hasil penjualan barang selama periode tertentu. Jika diformulasikan dalam bentuk persamaan sebagai berikut.
TR = P x Q

Dimana:
TR = Total Penerimaan P = Harga barang Q = Jumlah Penjualan Barang

2) Penerimaan Rata-rata (average revenue/AR)
Penerimaan rata-rata adalah pendapatan produsen epr unti barang yang berhasil dijualnya. Jika diformulasikan dalam bentuk persamaan sebagai berikut.

Dengan demikian, AR nilainya sama dengan harga jual per unit barang. 3) Penerimaan Marginal (marginal revenue/MR)

Penerimaan marginal adalah kenaikan penerimaan total yang disebabkan oleh tambahan penjualan sebanyak satu unit barang. Jika diformulasikan dalam bentuk persamaan sebagai berikut.
Readmore → Konsep Biaya Produksi, Pengertian Biaya Produksi, Konsep Biaya Produksi

Dec 4, 2016

Kegiatan Menabung dalam Pengelolaan Keuangan dan Kegiatan Berinvestasi dalam Pengelolaan Keuangan

Kegiatan Menabung dalam Pengelolaan Keuangan

1.Pengertian Menabung


Apakah Anda sudah memiliki tabungan di bank? Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan menabung? Menabung merupakan bagian dari pengelolaan keuangan. Menabung adalah kegiatan menyisihkan uang untuk dikumpulkan guna mencapai target dana tertentu agar kelak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Kegiatan menabung dapat dilakukan di mana saja, tidak hanya melalui produk tabungan di bank, tetapi dapat juga melalui reksadana, emas, dan saham.
2.Sumber Uang untuk Menabung

Uang yang ditabung dapat berasal dari dua sumber, antara lain sebagai berikut.
a)  Uang yang sengaja disisihkan untuk ditabung dan berasal dari uang saku.
b)  Uang yang didapatkan karena melakukan sesuatu atau pemberian seseorang.
3.Tujuan Menabung

Perlu disadari bahwa masih banyak masyarakat yang belum terbiasa untuk menabung dan bahkan masih ada masyarakat yang tidak menyadari betapa pentingnya menabung. Salah satu tujuan menabung, yaitu untuk membiayai kejadian yang tidak terduga dan untuk merencanakan keuangan di masa depan.
4.Macam-Macam Cara Menabung

Menabung dapat dilakukan secara tradisional dan modern.

1)Menabung secara Tradisional


Menabung secara tradisional, yaitu menabung dengan menyimpan uang di bawah lipatan pakaian, selipan buku, atau celengan. Cara ini tentu mudah untuk dilakukan karena tidak ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh penabung, tetapi banyak risikonya, antara lain risiko uang hilang, rusak, terbakar, dan basah.

2)Menabung secara Modern


Menabung secara modern salah satunya dapat dilakukan di bank. Bank merupakan pihak ketiga yang membantu masyarakat untuk menyimpan dana. Bank merupakan tempat menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya, dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Selain menabnng di bank, menabung secara modern dapat juga dilakukan dengan menggunakan produk keuangan lainnya, seperti reksa dana, emas, dan saham.
5.Mengenal Tabungan di Bank

Apa sesungguhnya tabungan itu? Tabungan adalah simpanan uang di bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu. Umumnya bank akan memberikan buku tabungan yang berisi informasi seluruh transaksi yang dilakukan. Selain buku tabungan, penabung juga akan diberikan kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) lengkap dengan nomor pribadi yang biasa disebut dengan Personal Identification Number (PIN).

Tabungan merupakansalahsatujenis simpanan di bank yang banyak disukai karena pengambilan kembali uangnya bisa dengan memakai buku tabungan atau menggunakan kartu ATM. Beberapa keuntungan yang akan diperoleh dengan menabung di bank, di antaranya sebagai berikut.

a.Aman, uang disimpan dengan aman di bank, tidak mudah dicuri rnaupun tercecer.

b.

Terjamin, tabungan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Saat ini jumlah simpanan nasabah di bank yang dijamin LPS sampai dengan maksimal 2 milyar

c.

Berkembang, bank akan memberikan bunga yang dihitung berdasarkan rata-rata saldo tabungan.

d.


Praktis, terdapat kemudahan layanan perbankan elektronik 24 jam per ' hari, antara lain ATM, SMS Banking, Mobile Banldng, Internet Banking, Phone Banldng, dan Call Centre.

Kegiatan Berinvestasi dalam Pengelolaan Keuangan 


1.Pengertian Berinvestasi

Apakah anda sudah pernah berinvestasi? Berinvestasi merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan keuangan. Berinvestasi adalah sebuah tindakan untuk meningkatkan nilai harta yang dimiliki agar di kemudian hari dapat lebih berkembang.

Sama seperti kegiatan menabung, berinvestasi dapat dilakukan di manapun. Produk investasi yang dapat digunakan antara lain tabungan berjangka, deposito, reksa dana, emas, dan saham. Secara umum, kegiatan berinvestasi menurut jangka waktunya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

a)Investasi jangka pendek, yaitu investasi yang dilakukan tidak lebih dari satu bulan atau satu tahun.

b)

Investasi jangka menengah, yaitu investasi yang inemiliki rentang waktu antara satu tahun sampai lima tahun.

c)Investasi jangka panjang, yaitu investasi yang inemiliki rentang waktu di atas lima tahun.
2.Tujuan Berinvestasi

Mengapa seseorang melakukan investasi? Secara umum, tujuan berinvestasi adalah untuk mencapai target dana tertentu pada masa yang akan datang, serta inemaksimalkan dana/aset yang menganggur (aset tidak produktif)
sehingga memberikan keuntimgan bagi yang memilikinya. Menurut Ganjar Isnawan (2012), terdapat enam tujuan seseorang berinvestasi, yaitu:

a.mendapat laba sebesar mungkin;

bjaminan kondisi di masa depan;

c.lindung nilai (hedging);

d.passive income;

e.perencanaan mewujudkan keinginan;

f.tujuan akhirat yang memicu keuntungan usaha dunia.
3.Hal-hal yang Harus Diperhatikan Saat Berinvestasi 

Agar kegiatan investasi dapat sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan, makaperlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut.

a.Pelajari dengan baik lembaga keuangan tempat berinvestasi.

b.

Ketahui dan pahami setiap risiko yangmelekat pada produk keuangan yang akan dimanfaatkan.

c.Sesuaikan jenis simpanan dan investasi dengan tingkat risiko yang diterima.

d.

Bersikap rasional dalam menghadapi penawaran investasi yang memberikan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat.
Readmore → Kegiatan Menabung dalam Pengelolaan Keuangan dan Kegiatan Berinvestasi dalam Pengelolaan Keuangan

Cek merupakan suatu perintah kepada bank untuk membayarkan sejumlah dana

Alat Pembayaran Nontunai


Alat pembayaran secara umum dibagi menjadi dua, yakni alat pembayaran tunai dan alat pembayaran non tunai, Alat pembayaran tunai tiada lain adalah uang rupiah sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya. Adapun alat pembayaran non tunai secara umum dibagi menjadi dua, yaitu alat pembayaran berbasis kertas (paper based) antara lain cek, bilyet giro, dan nota debet; alat pembayaran berbasis elektronik (elektronic based) yakni kartu ATM/debit, kartu kredit dan uang elektronik (e-money). Untuk lebih jelasnya perhatikan bagan sebagai berikut.

Cek merupakan suatu perintah kepada bank untuk membayarkan sejumlah dana. Cek dikenal ada tiga macam, yaitu cek atas unjuk, cek atas nama, cek silang. Adapun giro bilyet adalah surat perintah nasabah bank untuk memindahkan sejumlah uang dari rekeningnya kepada rekening nasabah yang lain yang ditunjuk. Giro bilyet tidak dapat ditukarkan dengan uang tunai di bank penerimanya.


Adapun Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) adalah alat. pembayaran berupa kartu kredit dan kartu ATM/debit. Kartu kredit adalah APMK yang dapat digunakan untuk berbelanja pada pedagang, sumber dana berasal dari pinjaman (kredit) yang diberikan penerbit serta dikenakan bunga/denda jika membayar setelah jatuh tempo atau angsuran. Kartu kredit dapat diartikan juga sebagai kartu yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga pembiayaan lainnya yang diberikan kepada nasabah untuk digunakan sebagai alat pembayaran.

Adapun kartu ATM adalah APMK yang dapat digunakan untuk melakukan tarik tunai, cek saldo, transfer dana antar dan intra-bank, sumber dana berasal dari simpanan dan saldo simpanan akan berkurang secara langsung pada saat transaksi. Kartu ATM dapat diartikan juga sebagai alat pembayaran berbasis kartu yang penyelesaian transaksinya dilakukan melalui mesin ATM. Layanan ATM di Indonesia mulai cliperkenallcan pada awal 1990-an.

Adapun kartu debit adalah APMK yang dapat digunakan untuk berbelanja pada pedagang dan debit tunai, sumber dana berasal dari simpanan dan saldo simpanan akan berkurang secara langsung pada saat transaksi. Kartu debit dapat diartikan juga sebagai alat pembayaran berbasis kartu yang pembayarannya dilakukan dengan pendebetan langsung ke rekening nasabah pada bank penerbit kartu. Beberapa bank penerbit kartu telah mengombinasikan kartu debet dan kartu ATM dalam satu kartu (kartu debit ATM).


Jika kartu debit digunakan untuk bertransaksi di mesin ATM, maka kartu tersebut dikenai sebagai kartu ATM. Namun, apabila digunakan untuk transaksi pembayaran dan pembelanjaan non tunai dengan menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture), maka kartu tersebut dikenai sebagai kartu debet.

Setiap pemegang kartu diberikan nomor pribadi (Personal Identification Number - PIN) yang bersifat rahasia untuk keamanan dan kewenangan melakukan transaksi. Untuk kartu debet, selain otorisasi dengan PIN, dimungkinkan pula otorisasi dengan tanda tangan seperti halnya kartu kredit. Batas (limit) transaksi kartu kredit dan kartu ATM bergantung dari jenis kartunya. Umumnya terdiri atas limit jumlah dan frekuensi transaksi, baik untuk penarikan tunai, belanja maupun transfer.

Selain kartu kredit, kartu ATM/debit, terdapat pula apa yang disebut dengan uang elelctronik (e-money). Tahukah Anda apa itu uang elektronik? Uang elelctronik adalah APMK yang diterbitlcan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu kepada penerbit. Nilai Uang disimpan secara elektronik dalam suatu media server atau chip. Uang elelctronik dapat digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut. Nilai uang elektronik yang disetor oleh pemegang kartu bukan simpanan, artinya tidak dapat ditarik secara tunai.

Uang elektronik di Indonesia mulai berkembang sejak April 2007. Alat pembayaran non tunai yang praktis, ekonomis, dan menunjang gaya hidup menjadi pemicu semakin berkembangnya uang elektronik, Perkembangan uang elektronik juga didorong oleh kenyataan bahwa pembayaran non tunai dengan kartu debit dan kartu kredit dalam transaksi kurang praktis dan ekonomis, karena terdapat batasan minimal transaksi yang boleh menggunakan kartu debit atau kartu kredit seperti, minimal transaksi Rp 100.000,00 sehingga transaksi yang lebih kecil dari Rp. l00.000,00 masih menggunakan uang tunai yang memiliki beberapa kendala seperti faktor keamanan, kenyamanan, dan kemudahan.


Penggunaan uang elektronik masih terbatas karena antar-penerbit uang elektronik harus menjalin kerja sama dengan unit usaha/pedagang/merchant yang mau menerima pembayaran transaksi di tempat usahanya dengan uang elektronik. Biasanya penerbit uang elektronik bekerja sama dengan mini-market, mal, kafe, atau tempat anak muda biasanya berkumpul.
Readmore → Cek merupakan suatu perintah kepada bank untuk membayarkan sejumlah dana

Aneka Resep, Dendeng Lambok Balado, Simpel, Super Pedas

Dendeng Lambok Balado

 Dendeng Lambok Balado


Bahan-bahan:
  • 1000 gr daging sapi tanpa lemak
  • 2 sdm air jeruk nipis
  • 1 sdt garam
  • Jahe 2 ruas + 7 siung bawang putih
  • Minyak untuk menggoreng
Bumbu:
  • Cabe keriting secukupnya
  • 5 buah bawang merah, iris halus
  • 2 sdm air jeruk nipis
  • 2 sdm minyak untuk menumis
  • 3 lembar daun jeruk
  • 1 sdt garam
Cara Membuat
  1. Balur daging dengan  jahe, bawang putih yang sudah dihaluskan tambah air jeruk  dan garam secukupnya dan rebus selama 30 menit.
  2. Lalu keluarkan daging, iris tipis dan melebar .
  3. Panaskan minyak dengan api agak besar, goreng daging hingga matang dan kering. Angkat. Tiriskan.
  4. Panaskan 10 sdm minyak di wajan, tumis bawang merah hingga matang, masukkan cabai merah, daun jeruk, garam dan air jeruk.
  5. Masukkan daging dalam tumisan cabai, aduk rata, angkat. Sajikan.

Dendeng Lambok Simpel

Dendeng Lambok Simpel

Bahan Yang Diperlukan
500 gramdaging sapi, tanpa lemak
3 buahkentang
15 buahcabe keriting merah
8 siung bawang merah
3 siungbawang putih
secukupnya garam
3 sdmgula pasir
1/4 sdmmasako sapi
1000 cc air
100 cc minyak goreng

bumbu ungkep

Proses Pembuatan Dendeng Lambok Simpel
1.Rebus daging yang telah dicuci bersih dengan jahe dan bawang putih yang telah dihaluskan dengan 1000 cc air hingga air surut, gunakan api kecil-sedang. Langkah ini membutuhkan waktu hingga satu jam lebih.
2.Sementara itu, kupas kentang dan iris bentuk bulat, kemudian goreng hingga matang.
3.Ulek bawang putih, bawang merah, dan cabe, jangan terlalu halus. Tambahkan garam, gula, dan masako.
4.Bila air daging telah surut hingga sisa sekitar 1/10 nya, matikan api. Diamkan sebentar. Saat berkurang panasnya, iris daging dengan ketebalan 1/2 cm.
5.Geprak daging dengan ulekan, atau pukul dngan pemukul daging agar seratnya melebar.
6.Goreng daging sebentar, hingga sedikit kecoklatan.
7.Tumis cabe yg telah diulek dengan banyak minyak (atau sesuai selera). Saat mulai matang, tambahkan kaldu sisa rebuasan daging. Koreksi rasa.
8.Tambahkan daging dan kentang yg trlah digoreng, aduk rata. Matikan api. Diamkan sejenak. Angkat, siap disajikan.




Dendeng Lambok Super Pedas

Dendeng Lambok Super Pedas

Bahan Yang Diperlukan
1/2 kgdaging dendeng, iris agak tebal2
3 buahkentang,potong memanjang
2 gelas air kelapa
secukupnya garam & penyedap bila suka
secukupnyaminyak goreng

Proses Pembuatan Dendeng Lambok Simpel
1.Panaskan minyak,goreng kentang sampai empuk angkat&tiriskan... Kemudian pukul" daging yang sudah di presto & goreng sampai kedua sisi berwana coklat angkat&tiriskan...
2.Saring minyak sampai bersih&masukan bumbu balado beri 2 gelas air kelapa aduk",masak sampai air kelapa mengering pakai api kecil sambil sekali" di aduk..
3.Tambahkan garam & penyedap tes rasa masukan kentang&daging aduk" sampai tercampur semua,matikan api sajikan..

Dendeng Lambok Cabe Merah 

Dendeng Lambok Cabe Merah
Bahan Membuat Dendeng Lambok Cabe Merah


Bahan Membuat Dendeng Lambok Cabe Merah
Proses Membuat Dendeng Lambok Cabe Merah

Dendeng Balado Campur Kentang

Dendeng Balado Campur Kentang

 Bahan Membuat Dendeng Balado Campur Kentang

Proses Membuat Dendeng Balado Campur Kentang

Resep Membuat Dendeng Balado Sambel Ijo
Resep Membuat Dendeng Balado Sambel Ijo

Bahan dan Cara Buat Dendeng Balado Sambel Ijo

Readmore → Aneka Resep, Dendeng Lambok Balado, Simpel, Super Pedas